Tumor and Cancer Treatment

healthy articles and hot news, etc

Khasiat Ampuh “Keladi Tikus” (Typhonium Flagelliforme) May 28, 2009

Filed under: Keladi Tikus - Typhonium Plus - Brochure Products — tumore @ 4:27 am

Beberapa tahun yang lalu beredar kabar heboh di dunia maya. Diberitakan seorang pasien penderita kanker payudara stadium lanjut dapat melewati kemoterapi tanpa efek yang menyiksanya dan dinyatakan sembuh setelah mengkonsumsi keladi tikus (typhonium flagelliforme) Keladi tikus sebelumnya memang belum setenar herba lainnya seperi sambiloto, temu putih, temu lawak, dan mengkudu.

Keladi Tikus1Keladi Tikus 2

 

 

 

 

 

 

 

 

Nama keladi tikus diambil dari nama asing Rodent Tuber (laoshu yu) yang lebih dulu terkenal di Malaysia. Tanaman semak sejenis talas ini tingginya hanya 25 cm -30 cm. Ia menyukai tempat lembab & tidak terkena matahari langsung pada ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut. Daun tunggalnya berbentuk bulat dengan ujung meruncing seperti jantung, muncul dari umbi dan berwarna hijau segar. Mahkota bunganya berbentuk panjang kecil berwarna putih mirip dengan ekor tikus, dari sinilah nama keladi-tikus diberikan.

Hingga saat ini belum banyak peneliti yang mengungkap khasiat keladi-tikus terutama untuk penyakit kanker. Prof Dr Chris K.H. Teo, Dip Agric (M), BSc Agric (Hons)(M), MS, PhD dari Universiti Sains Malaysia meneliti tanaman ini, hasilnya ekstrak dari akar keladi-tikus efektif untuk kanker prostat. Selain itu Lam Siew Hong peneliti dari USM menyebutkan bahwa terjadi peningkatkan aktivitas antibakteri dalam darah ikan lele. Keladi tikus mengandung antineoplastik atau antikanker selain juga bisa berkhasiat sebagai antivirus. Efek farmakologi inilah yang menjadi obat utama untuk mengatasi kanker stadium lanjut. Bagian yang digunakan untuk pengobatan adalah keseluruhan dari tanaman tersebut. Mulai dari akar (umbi), batang, daun hingga bunga. Tentu saja, efek tersebut akan bertambah baik bila diberikan bersama-sama dengan tanaman lainnya, seperti sambiloto, rumput mutiara dan temu putih. Ekstrak typhonium flageffiforme clan bahan alami lainnya membantu detoxifikasi jaringan darah. Ramuan ini mengandung ribosome inacting protein (RIP), zat antioksidan dan zat antikurkumin. RIP berfungsi menonaktifkan perkembangan sel kanker, merontokkan sel kanker tanpa merusak jaringan sekitarnya dan memblokir pertumbuhan sel kanker. Zat antioksidan berfungsi mencegah terjadinya kerusakan gen. Sementara zat antikurkumin berfungsi sebagai antiinflamasi/antiperadangan. Kombinasi bahan alami ini mengaktivasi dengan memproduksi mediator yang menstimulasi untuk menguatkan sel dari sistem kekebalan tubuh untuk bersamasama memberantas sel kanker. Di Cina tanaman ini di teliti oleh Zhong Z, Zhou G, Chen X, dan Huang P dari Guangxi Institute of Traditional Medical and Pharmaceutical Sciences, Nanning. Penelitian tersebut dilakukan untuk mengetahui efek farmakologis dari typhonium flagelliforme. Diketahui bahwa ekstrak air dan alkohol dari typhonium flagelliforme mempunyai efek mencegah batuk, menghilangkan dahak, antiasmatik, analgesik, antiinflamasi, dan bersifat sedatif. Pada konsentrasi 720 g/kg ekstrak air, 900 g/kg ekstrak alkohol dan 3240 g/kg ekstrak ester tanaman ini dapat meracuni tubuh. MenurutAngela Riwu Kaho PhD, Ahli Kimia Natural peniliti zat anti tumor dari Ohio State University, ekstrak typhonium flagelliforme memang mengandung zat anti kanker namun konsentrasinya lemah. Mengenai hasil penelitiannya pernah di publikasikan dalam jurnal Phytotheraphy Research pada bulan Mei 2001. Namun demikian ia juga tidak memungkiri ada pasien yang sembuh dengan mengonsumsi ramuan ini.

Article: Keladi Tikus (Typhonium Flagelliforme)

Compile by: http://www.cancerhelps.com

 

Sembuh dari Leukimia May 22, 2009

Filed under: Kesembuhan berkat herbal "Typhonium Plus" — tumore @ 4:48 am

SUPLEMEN KANKER/TUMOR ALAMI

 >>>Sembuh dari LEUKIMIA<<<<

‘Ibu Ngatminah sangat sedih. Betapa tidak, ia hampir-hampir tidak percaya divonis dokter menderita kanker darah (multiple myeloid leukemia) stadium 2A dalam usianya yang 43 tahun. Kanker yang menyerang sumsum tulang belakangnya, mengakibatkan nyeri seluruh tubuh sehingga ia sulit bergerak. Beban penderitaan pun bertambah lantaran ia diharuskan melakukan transfusi darah sebanyak 8 kantong setiap minggu. Dalam kondisi bingung, anak-anak mencoba mencari informasi sebanyak mungkin tentang kanker dan pengobatannya.

 

Suatu hari, dari hasil browsing internet, anak perempuannya  menemukan produk – suplemen kanker alami ‘Typhonium Plus. ‘Ah, barangkali obat ini dapat mengurangi beban penderitaan Ibu’ pikirnya. Dua kotak pertama Typhonium Plus segera diberikan kepada Ibunya. Setelah mengkonsumsi Typhonium Plus selama 2 bulan secara konsisten, Ibu Ngatminah merasakan kemajuan yang luar biasa. Nyeri pada tubuhnya berangsur hilang dan ia sudah mulai bisa berjalan kembali. Bukan hanya itu, transfusi darah yang tadinya 8 kantong per minggu, berkurang menjadi 4 kantong lalu 2 kantong, lalu 1 kantong dan kini sama sekali tidak perlu transfusi darah lagi. Ia amat bersyukur kepada Tuhan atas kesembuhan ini dan juga kepada Typhonium Plus.’ Demikian disaksikan Ibu Ngatminah kepada customer care Typhonium Plus pada Des’08.

Bagi Anda yang sedang bingung lantaran orang yang Anda kasihi menderita kanker/tumor, kini tidak perlu khawatir lagi. Typhonium Plus – ramuan herbal alami  berkualitas secara khusus diformulasikan untuk membantu mencegah dan mengobati kanker/tumor dengan komposisi utama ekstrak  Typhonium flagelliforme (nama lain: KELADI TIKUS/Rodent Tuber/Laoshu Yu).

Typhonium Plus mengandung Ribosome in acting protein (RIP), anti oksidan dan anti curcumin, yang bersinergi untuk menstimulasi & menguatkan daya tahan tubuh dalam melawan & memberantas sel-sel kanker/tumor : payudara, paru-paru, usus besar-rectum, liver, prostat, ginjal, serviks(leher rahim), tenggorokan, tulang, otak, limpa, leukemia, empedu, pankreas, dan hepatitis.

Typhonium flagelliforme sendiri merupakan tanaman herbal yang sudah lama dikenal orang memiliki khasiat sebagai agen detoksifikasi yaitu pembersih racun dalam darah, pembersih saluran pencernaan, peningkat nafsu makan, pengembali vitalitas tubuh yang hilang serta memperlancar berkemih.

 

Bagi pasien yang sedang menjalani radiasi/kemoterapi, Typhonium flagelliforme dipercaya dapat mengurangi efek samping menyakitkan, seperti : kerontokan rambut, mual, letih lesu, dan tidak nafsu makan. Dengan demikian diharapkan pasien yang turut mengkonsumsi Typhonium Plus bersamaan dalam menjalani radioterapi/kemoterapi, dapat memperoleh hasil yang optimal.

 

Bukan hanya untuk membantu pengobatan kanker saja, Typhonium Plus juga dapat dikonsumsi untuk mencegah terjadinya kanker (dosis disesuaikan), terutama pada orang-orang yang memiliki riwayat anggota keluarga penderita kanker, ataupun yang beresiko tinggi kanker, seperti : perokok aktif/pasif, wanita yang memiliki kista/myom, wanita dengan riwayat keputihan menahun, ataupun orang-orang yang memiliki tumor jinak pada anggota tubuh.

 

Kanker kini tidak lagi menakutkan. Cegahlah dan lawanlah sekarang bersama Typhonium Plus !

Source: http://www.cancerhelps.com

 

Kanker Payudara

Filed under: Artikel Kanker - Cancer Articles — tumore @ 4:28 am

PARA wanita selama ini – terutama yang berusia separuh baya – senantiasa disarankan untuk menjalani pemeriksaan mamografi untuk menghindari diri dari kemungkinan terkena kanker payudara stadium lanjut.  Ternyata Screening (pemeriksaan penyaring) terhadap para wanita ini ternyata tidaklah menyelamatkan lebih banyak nyawa daripada melakukannya setiap tiga tahun, demikian disebutkan oleh sebuah penelitian di European Breast Conference di Brussels. Kanker payudara1

Penelitian ini melibatkan 76.000 wanita berusia antara 50 sampai 62 tahun.  Mereka menjalani satu pemeriksaan mamografi dan kemudian setengahnya dites setiap tahun, sementara lainnya mendapatkan tes hanya setelah tiga tahun, seperti yang dilakukan saat ini di Inggris.  Penelitian ini berlangsung selama empat tahun.  Hasil-hasilnya menunjukkan bahwa pemeriksaan penyaringan tahunan menemukan lebih banyak tumor kecil, namun tidak menemukan lebih banyak wanita yang telah terjangkit penyakit ini dalam stadium lanjut.

Para peneliti harus memperkirakan berapa banyak wanita yang akan meninggal sepuluh tahun setelah kanker itu didiagnosa, berdasarkan kemungkinan progresifitas dari tumor-tumor yang teridentifikasi itu.  Mereka meramalkan bahwa 32,9 persen dari para wanita yang diperiksa setiap tahun dan 35,4 persen dari mereka yang diperiksa setiap tiga tahun diperkirakan akan meninggal karena kanker payudara.

Perbedaan statistik dalam angka-angka di atas disebut sebagai tidak begitu penting.  Roger Blamey, koordinator penelitian ini berkata bahwa tambahan sebesar 56 juta poundsterling yang diperlukan untuk mendanai pemeriksaan penyaringan tahunan sebaiknya digunakan untuk cara-cara lain dalam mengobati penyakit itu.  “Dana apapun tampaknya lebih baik digunakan untuk memperbaiki kualitas – melalui mamografi dalam dua sudut pandangan, peletakan yang lebih baik serta janji kualitas,” kata Roger.

Sumber:  Satumed.com, Satunet

 

Petunjuk Baru Cara Kanker Menyebar

Filed under: Artikel Kanker - Cancer Articles — tumore @ 4:24 am

PARA peneliti selama dibingungkan oleh pertanyaan mengenai bagaimana sesungguhnya mekanisme penyebaran kanker.  Sebuah penelitian kemungkinan besar telah menemukan sebagian dari kunci jawaban di atas.  Mereka menemukan mekanisme yang mengendalikan jalannya sel dalam aliran darah, atau peredaran sel, yang mungkin bertanggung jawab atas penyebaran sel kanker di sekitar tubuh.

kanker

Peredaran sel sesungguhnya merupakan sebuah proses yang penting dan normal, namun kemungkinan juga bertanggung jawab atas metastasis, atau penyebaran dari sel-sel kanker, dimana sel-sel tersebut berpindah dengan tujuan yang sangat terarah dari tempat tumor primer (asal) ke lokasi sekunder. Misalnya ke organ paru-paru dalam kasus kanker kulit, tampaknya sel melanoma sudah terprogram untuk berpindah dengan sendirinya ke paru-paru.

Prof. Daniel Hammond dan tim peneliti dari University of Pennsylvania dan Cornell University di AS, menunjuk molekul yang mereka namakan “Molekul Goldilocks” yang mengikat sel-sel darah pada dinding pembuluh darah vena dan arteri, tidak terlalu kuat dan tidak terlalu lemah, namun dengan daya rekat yang cukup untuk menjaga agar tidak keluar dari aliran darah.

Peredaran sel dimulai dengan daya rekat yang berputar, dimana sel-sel darah yang mengalir melalui pembuluh darah beristirahat secara berkala ketika molekul pada permukaan membentuk ikatan sementara dengan molekul Goldilock darah yang mengikat pembuluh darah.

Prof. Hammond menyamakan proses peredaran sel dengan penggunaan kode pos pada surat-surat yang dikirim langsung untuk daerah yang berbeda. “Peredaran sel darah pada jaringan merupakan hal yang krusial bagi fungsi respon kekebalan tubuh yang tepat.  Peradangan, fungsi limfosit dan melengkapkan kembali sumsum tulang setelah transplantasi semua tergantung pada hal itu.”

Ia memperkirakan bahwa penemuan tersebut mungkin berguna bagi Human Genome Project, karena mereka membantu menjelaskan hubungan antara struktur dan fungsi molekul, yang akhirnya menjelaskan bagaimana molekul bekerja, sebagaimana halnya menawarkan proses baru yang potensial dalam mencegah penyebaran kanker.

Sumber:  Satumed.com, Satunet

 


 

Apel Memperlambat Pertumbuhan Kanker

Filed under: Artikel Kanker - Cancer Articles — tumore @ 4:14 am

SUATU pengujian di Cornell University telah menunjukkan bahwa zat-zat kimia alami dalam apel dapat memperlambat pertumbuhan tingkat sel-sel kanker usus dan kanker hati pada manusia. Makin kuat konsentrasi ekstrak-ekstrak apel tersebut, maka tingkat reproduksi sel-sel kanker juga makin lambat, demikian laporan para ilmuwan Cornell dalam jurnal Nature di edisi baru-baru ini.

apel
        Efek anti-kanker terkuat ada dalam ekstrak dari apel yang belum dikupas, karena mengandung lebih banyak antioksidan fitokimiawi.  Antioksidan yang relatif banyak ditemukan dalam ekstrak apel dapat membantu menjelaskan mekanisme perlindungan terhadap kanker tersebut.
        Penelitian ini memang tidak dirancang untuk membuktikan nutrien tertentu apa dalam apel yang dapat melindungi seseorang terhadap kanker atau bagaimana caranya.  Oleh karena itu masih terlalu dini untuk mengatakan bahan-bahan apa dalam apel yang menyediakan perlindungan dan bahwa dengan mengkonsumsi buah-buahan dan sayuran yang cukup merupakan cara terbaik untuk memperendah risiko kanker.
        “Namun,” kata David Ringer, PhD, direktur program ilmiah di American Cancer Society, “karena kita belum mengetahuinya, cara yang paling pasti untuk mendapatkan perlindungan tersebut adalah dengan mengkonsumsi beragam buah-buahan dan sayur-sayuran setiap hari, dan sedikitnya 5 porsi buah dan sayuran setiap hari.  Kami mengetahui hal tersebut dari penelitian-penelitian diet yang amat luas.”
        Manfaat-manfaat kimia ini tidak hanya diperoleh dari apel saja, namun juga ditemukan dalam tanam-tanaman yang langsung dikonsumsi atau langsung digunakan oleh masyarakat. Contohnya adalah fitokimia dalam teh, tampaknya mampu menghalangi pertumbuhan pembuluh darah yang memberi makan sel-sel kanker, demikian menurut riset di Tufts University, Boston.
        Penelitian Cornell menunjukkan bahwa makanan yang amat banyak tersedia ini dapat menyediakan perlindungan antioksidan melawan kanker. Penelitian tersebut juga berguna untuk mengarahkan pada penelitian di masa depan. Para ilmuwan sedang berada dalam tahap awal pengertian dampak fitokimia pada kesehatan manusia.

Sumber: satumed.com, satunet

 

Wortel Rebus Ternyata

Filed under: Artikel Kesehatan - Healthy Articles — tumore @ 4:11 am

WORTEL ternyata tak hanya efektif dimakan segar.  Tapi juga bisa dikukus kemudian dibuat semacam puree kentang.  Cara memasak seperti itu terbukti tidak mengurangi nilai gizinya.  Bahkan kandungan antioksidannya jadi lebih banyak.  Demikian hasil penelitian dari Universitas Arkansas.
        Ahli gizi, professor Luke Howard dan asistennya, S.T. Talcott dan C.H. Brenes mengukur kadar antioxidan pada wortel segar dan wortel yang sudah dikukus.  Hasilnya wortel yang sudah dikukus mengandung kadar antioksidan lebih tinggi dibanding wortel segar.  Hasil penelitian ini juga dilaporkan dalam Journal of Agricultural and Food Chemistry, yang dipublikasikan the American Chemical Society.
        “Jadi anggapan sayuran segar itu lebih sehat, tidak selalu benar,” tambah Howard.
        Howard dan koleganya memasak wortel tersebut dengan dan tanpa kulit luarnya.  Kemudian mengukur aktivitas antioksidan selama empat minggu lebih.  Parameter yang diukur adalah subtansi antioksidan, seperti asam fenolik dan betakaroten.  Seperti diketahui, antioksidan bisa menetralisasi radikal bebas yang menyebabkan berbagai penyakit seperti kanker, Alzheimer, dan masalah pencernaan.
        Para peneliti menyebutkan bahwa kadar antioksidan meningkat 34,3% segera setelah proses pemasakan selesai dan bertambah terus selama satu minggu kemudian.  Setelah itu menurun, tapi tetap lebih tinggi kadarnya dibanding kadar antioksidan pada wortel mentah.
        “Penelitian ini membuktikan bahwa wortel yang sudah diproses ternyata lebih baik untuk mencegah kerusakan oksidatif dibanding wortel mentah,” tambah Howard.  Tapi, dia juga menyebutkan perlu penelitian lanjutan yang bisa menjelaskan ketersediaan wortel yang sudah dimasak dibanding wortel mentah.
        Anda suka yang mana?  Paling tidak, kini ada pilihan yang bisa menjadi alternatif, ya? (susandijani)

 

Pekerjaan Bertani Lindungi Wanita

Filed under: Artikel Kanker - Cancer Articles — tumore @ 3:51 am

Chapel Hill – 20 Sep 00 11:27 WIB – (Astaga!com)

WANITA yang bekerja di pertanian jarang yang terkena kanker payudara dibandingkan wanita yang tinggal di kota. Mungkinkah? Padahal, paparan pestisida konon justru meningkatkan risiko terkena kanker. “Hasil temuan menunjukkan bahwa bertani, melindungi wanita yang bekerja di pertanian dari kanker payudara, jika dibandingkan dengan populasi umumnya,” kata Dr Eric Duell, dari University of North Carolina di Chapel Hill (UNC-CH). Para ahli dari berbagai disiplin dari UNC-CH ini meneliti 862 pasien kanker payudara yang tinggal di 24 kawasan North Carolina dan membandingkannya dengan 790 wanita lainnya yang tidak menderita kanker payudara, kata Duell. Mereka memiliki semua data mulai dari catatan kesehatan, sejarah pekerjaan, termasuk juga semua informasi pekerjaan pertanian sejak mereka berumur tujuh tahun, penggunaan pestisida, informasi mengenai tanaman dan ternak. Hasil analisis semua data, yang dilaporkan selengkapnya dalam jurnal Epidemiology edisi September 2000, menunjukkan wanita yang bertani lebih dari 23 tahun, risikonya terkena kanker payudara 40 % lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak pernah tinggal di pertanian. Mereka yang bekerja di pertanian dengan jangka waktu yang lebih lama, mendapatkan perlindungan dari kanker payudara lebih besar, sedangkan yang tidak terlalu lama perlindungannya lebih rendah. Mengapa itu terjadi para ahli masih belum bisa menyimpulkan. Faktor yang mungkin penting adalah wanita di pertanian cenderung melahirkan anak lebih cepat dan memiliki anak lebih banyak. Mereka mencapai fase pubertas lebih lambat dan memasuki fase menopauses lebih awal. Mereka juga cenderung kurang merokok dan meminum minuman beralkohol dibandingkan wanita lainnya. Tetapi jika secara statistik faktor itu dikontrol, tetap tidak mempengaruhi efek perlindungan dari pekerjaan pertanian. Para ahli tidak bisa menetapkan efek aktivitas fisik, yang oleh sejumlah ahli diperkirakan mengurangi risiko terkena kanker payudara.